Jumat, 06 Maret 2015

Teori Kepribadian Sehat

1.Aliran Psikoanalisis

Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisis. Menurut Freud pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang.
Sumbangan terbesar Freud pada teori kepribadian adalah eksplorasinya ke dalam dunia tidak sadar dan keyakinannya bahwa manusia termotivasi oleh dorongan-dorongan utama yang belum atau tidak mereka sadari. Bagi Freud, kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam sadar. Alam tidak sadar terbagi menjadi dua tingkat, alam tidak sadar dan alam bawah sadar.  
Gambar
Dalam psikologi Freudian, ketiga tingkat kehidupan mental ini dipahami, baik sebagai proses maupun lokasi. Tentu saja, keberadaan lokasi dari ketiga tingkat tersebut bersifat hipotesis dan tidak nyata ada di dalam tubuh. Sekalipun demikian, ketika membahas alam tidak sadar, Freud melihatnya sebagai suatu alam tidak sadar sekaligus proses terjadi tanpa disadari.
Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, sering kali kita tidak menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya seorang pria bisa saja mengetahui bahwa ia tertarik pada seorang wanita tetapi tidak benar-benar memahami alasan dibalik ketertarikannya, yang bisa saja bersifat tidak rasional.
Dorongan tidak sadar ini muncul di alam bawah sadar setelah menjalani transformasi tertentu. Contohnya, seseorang dapat mengekspresikan dorongan erotis atau keinginan untuk melukai orang lain dengan cara menggoga atau mengolok-olok orang lain. Dorongan sejati (seks atau agresi) menjadi terselubung dan tersembunyi dari alam sadar kedua orang tersebut. Akan tetapi, alam tidak sadar orang kedua secara langsung. Keduanya dapat memuaskan dorongan seksual maupun agresif, tetapi tak satupun di antara mereka menyadari motif di balik godaan atau olok-olok tersebut. Dengan cara inilah, alam tidak sadar seseorang bisa berkomunikasi dengan alam tidak sadar dari orang lain, keduanya sama-sama tidak sadar akan proses tersebut.
Tentu saja, alam tidak sadar bukan berarti tidak aktif atau dorman. Dorongan-dorongan di alam tidak sadar terus-menerus berupaya agar disadari, dan kebanyakan berhasil masuk ke alam sadar, sekalipun tak lagi muncul dalam bentuk asli. Pikiran-pikiran yang tak disadari ini bisa dan memang memotivasi manusia. Contohnya, amarah sseorang anak terhadap sang ayah bisa terselubung dalam bentuk kasih sayang yang berlebihan. Apabila tak bisa disembunyikan, rasa marah seperti ini sudah tentu akan menyebabkan si anak merasa sangat cemas. Oleh karena itu, alam bawah sadarnya memotivasinya untuk mengekspresikan rasa marah melalui ungkapan rasa cinta dan pujian yang berlebihan. Agar selubung itu benar-benar berhasil mengelabui orang tersebut, maka sering kali perasaan tersebut muncul dalam bentuk yang sama sekali berbeda dengan perasaan yang sebenarnya, tetapi selalu muncul dalam bentuk yang berlebihan dan penuh kepura-puraan. (Mekanisme ini dikenal dengan pembentukan reaksi (reaction formation) yang akan dibahas secara terpisah dibagian berjudul Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism) yang terdiri dari represi (repression), pembentukan reaksi (reaction formation), pengalihan (displacement), fiksasi (fixation), regresi (regression), proyeksi (projection), introyeksi (introjection), dan sublimasi (sublimation).
Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen yang tak disadari, tetapi bisa muncul kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1993/1964). Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar (conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus perhatian beralih ke pemikiran lain.
Sumber kedua dari gambaran-gambaran bawah sadar adalah alam tidak sadar. Sedangkan sejumlah gambaran lain dari alam tidak sadar bisa masuk ke alam sadar karena bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap, ataupun dalam bentuk pertahanan diri yang kuat.
Alam Sadar
Alam sadar (conscious), yang memainkan peran tak berarti dalam teori psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang bisa langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.
Sumber kedua bagi elemen alam sadar ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.

2.Aliran Behavioristik
    Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Manusia dianalogikan atau dianggap sebagai tikus pintar yang mempelajari labirin kehidupan. Behavioristik memiliki pandangan tentang kehendak bebas yaitu perilaku yang ditentukan oleh lingkungan.
Tokoh-tokoh terkenal tentang masalah ini diantaranya adalah:
  1. Ivan Pavlov
  2. Edward Lee Thorndike
  3. John B. Watson
  4. B.F. Skinner

Kesehatan Mental

  A.Orientasi Kesehatan Mental


  Kesehatan mental, berasal dari dua kata, yakni “kesehatan” dan “mental”. Kesehatan berasal dari kata “sehat”, yang merujuk pada kondisi fisik. Individu yang sehat adalah individu yang berada dalam kondisi fisik yang baik, dan bebas dari penyakit. Sedangkan “mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan perbuatan. Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan atau kebulatannya akan menentukan tingkah laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan, atau yang menggembirakan dan menyenangkan.
   Kesehatan mental menggambarkan tingkat kesejahteraan psikologis, atau adanya gangguan mental. Dari perspektif 'psikologi positif' atau 'holisme', kesehatan mental dapat mencakup kemampuan individu untuk menikmati hidup, dan menciptakan keseimbangan antara aktivitas kehidupan dan upaya untuk mencapai ketahanan psikologis. Kesehatan mental juga dapat didefinisikan sebagai suatu ekspresi emosi, dan sebagai penanda adaptasi sukses untuk berbagai tuntutan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai, "suatu keadaan kesejahteraan dimana individu menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan yang normal dari kehidupan, dapat bekerja secara produktif dan baik, dan mampu memberikan kontribusi bagi dirinya sendiri dan masyarakat.
  Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang nyata antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan, yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan (konflik).


B.Konsep Sehat

   Konsep sehat dan kesehatan merupakan dua hal yang hampir sama tapi berbeda. Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.Beberapa abad yang lalu, sehat diartikan sebagai suatu kondisi yang normal dan alami sehingga suatu kondisi yang tidak normal dan bertentangan dengan alam dianggap tidak sehat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengembangkan defenisi tentang sehat. Pada sebuah publikasi WHO tahun 1957, konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan bahwa Sehat adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.


C.Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu keodkteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relative mudah dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental seringkali tidak terdeteksi, sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku-tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental, dianggap hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
1. Gangguan Mental Tidak Dianggap Sebagai Sakit
(Tahun 1600 dan sebelumnya)
Dukun asli Amerika (Indian), menyembuhkan orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural. Orang yang mengalami gangguan mental adalah karena dimasuki oleh roh-roh. Oleh karena itu, mereka sering kali tidak dianggap sakit.
(Tahun 1692)
Mendapatkan pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, di Amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena sihir/guna-guna atau dirasuki setan.
2. Gangguan Mental Dianggap Sebagai Sakit
(Tahun 1724)
Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhyul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri. Pada saat ini benih-benih pendekatan secara medis mulai dikenalkan.
(Tahun 1843)
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.
(Tahun 1910)
Emil Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer.
(Tahun 1940-an)
Elektroterapi, yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika Serikat untuk menangani penyakit mental. Pada tahun 1940-1950 dimulainya perawatan masyarakat bagi penderita gangguan mental di Inggris.
(Tahun 1947)
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.
(Tahun 1950)
Di bentuk National Association of Mental Health (NAMH) melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehtan mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehtan mental.
3. Gangguan Mental Dianggap Sebagai Bukan Sakit
(Tahun 1961)
Thomas Szasz membuat tulisan yang berjudul The Myth of Mental Illnes, yang mengemukakan dasar teori yang menyatakn bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah betul-betul “sakit”, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.
4. Melawan Diskriminasi Terhadap Gangguan Mental
(Tahun 1990)
NAMH memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act, yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi pada beberapa wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi publik, transportasi, telekomunikasi, dan pelayanan pemerintah pusat dan local. Sementara itu, teknologi penggambaran otak digunakan untuk mempelajari perkembangan penyakit mental utama dengan lebih baik lagi.
Sejarah kesehtan mental merupakan cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandngan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat, anatar lain:
- Akibat kekuatan supranatural.
- Dirusak oleh roh/setan
- Dianggap kriminal karena memiliki derajad kebinatangan yang besar.
- Dianggap memiliki cara berpikir irasional.
- Dianggap sakit.
- Merupakan reaksi terhadap tekanan/stress, merupakan perilaku maladaptif.
- Melarikan diri dari tanggung jawab.

D.Pendekatan Kesehatan Mental

1)      Orientasi Klasik
Orientasi klasik ini banyak digunakan dalam dunia kedokteran, termasuk psikiatri. Menurut pandangan orientasi klasik, individu yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “perasaan tak sehat”, serta mengganggu efisiensi dan efektifitas kegiatan sehari-hari. Individu yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan secara fisik dan mental. Sehat fisik merujuk pada tidak adanya keluhan secara fisik, dan sehat mental merujuk pada tidak adanya keluhan secara mental.

2)        Orientasi Penyesuaian Diri
Pandangan yang digunakan sebagai landasan orientasi penyesuaian diri adalah pendekatan yang menegaskan bahwa manusia pada umumnya adalah makhluk yang sehat secara mental. Dengan pandangan ini penentuan sehat atau sakit mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Selain itu, berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi kepribadian individu secara utuh. Penentuan derajat kesehatan mental bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan individu dalam lingkungannya. Kesehatan mental seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat dimana individu hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya.
Kesehatan mental merupakan kemampuan individu untuk secara aktif menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya, yang merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya. Penyesuaian diri ini tidak mengakibatkan perubahan kepribadian, stabilitas diri tetap terjaga, dan tetap memiliki otonomi diri. Individu dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap buruk berdasarkan pegangan normatif yang ia miliki. Individu yang sehat akan melihat realitas terhadap masalah yang dihadapinya dan bagaimana kondisi dirinya berkaitan dengan masalah itu sebelum menentukan tindakan yang akan diambil. Individu yang sehat memiliki kemampuan memahami realitas internal dan eksternal dirinya. Ia tidak bereaksi secara mekanik atau kompulsif-repetitif tetapi merespons secara realistis dan berorientasi pada masalah.

3)      Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap dapat berkembang secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan disekitarnya. Individu dianggap mencapai taraf kesehatan mental, bila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.
Individu yang sehat mental adalah individu yang dapat dan mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk kegiatan yang positif-konstruktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. Pemanfaatan dan pengembangan potensi ini dapat dipergunakan dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari.



Daftar Pustaka:

      Basuki, Heru . 2008 . Psikologi Umum . Jakarta : Universitas Gunadarma
 http://hikmatkj.wordpress.com/kesehatan/rohani/pengertian-kesehatan-mental-dan-konsep-sehat/ 
      Schultz. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta : Kanisius
      Lindzey, Gardner . ( 1993 ). Teori Psikodinamik. Jakarta
     Dwi, Riyanti , Hendra Prabowo . ( 1996 ). Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum .I . Jakarta Gunadarma

Jumat, 16 Januari 2015

Kesan dan pesan selama dikelas 2PA06

      Saat pertama kali masuk kelas lumayan banyak kenal temen temen dari semester 1 jadi udah bisa ngobrol dan tidak kaku lagi,tapi tidak sedikit juga wajah-wajah baru yang sama sekali saya belum pernah temui dari kelas 1.Saya yakin kelas saya yang baru untuk 3 tahun berikutnya akan lebih baik dan kompak,Lalu diadakan makrab atau malam keakraban kelas kePuncak,Bogor agar mempererat dan lebih mengenal lebih dalam satu sama lainnya yang tidak kita ketahui di kelas.Akhirnya makrab pun jadi dan sukses lumayan akrab dengan teman yang lain dan poto poto tentunya.Namun sayangnya,anak perempuan dikelasnya bila bertemu teman sekelasnya masih kurang menyapa dan cenderung tak acuh dan menunggu disapa terlebih dahulu atau gengsi,hanya menyapa bila sedang perlu.Dan masih bergerombol bila dikelas,mengobrolnya dengan yang itu-itu saja.Yang saya rasa sih mungkin mereka seperti itu karena sudah mendengar bagaimana dan seperti ama si A dari temannya tanpa pernah mengobrol dengan si A,jadi sudah enggan terlebih dahulu dan menjaga jarak padahal belum tentu si A seperti itu,lebih baik mencari tahu sendiri dan mencoba lebih dekat dengan mereka-mereka,karena omongan orang adalah neraka.

Minggu, 04 Januari 2015

Tes psikotes dan psikoterapi online

  1. Tes psikologi online
tes psikotes bertujuan untuk mengukur aspek individu secara psikis. Psikotes juga dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa dan bisa berbentuk tertulis, proyektif, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi atau kemampuan kognitif dan emosional seseorang.
contoh tes psikotes tersebut :









2.Psikoterapi online

Psikoterapi itu sendiri di Indonesia lebih hanya kepada test secara kasat mata, karena si psikolog yang memeriksa tidak bertemu secara langsung.Ada beberapa kelebihan maupun kekurangan dalam melakukan psikoterapi secara online, seperti sebagai berikut :

Kelebihan :
> Menghemat waktu, karena klien tidak perlu repot-repot untuk datang ke tempat psikoterapis
> Lebih hemat dan murah,biasanya psikoterapi yang dilakukan secara online memiliki harga yang lebih                  murah ketimbang datang langsung ketempat terapis,bahkan ada psikoterapis yang tidak dipungut biaya
> Cocok untuk orang yang memiliki kepribadian tertutup,biasanya orang pemalu akan lebih terbuka dan berani        jika terapis di lakukan jarak jauh ketimbang bertatap muka langsung


Kekurangan :
> Sang terapis,dalam hal ini sang psikolog tidak mengetahui bagaimana keadaan klien sesungguhnya itu seperti    apa.
> Terapis tidak bisa mengetahui bagaimana bahasa tubuh si klien,tatapan mata klien,dan cara bicara si klien,        seperti kita tahu bahwa bahasa tubuh,tatapan mata,dan cara bicara merupakan entry point bagi seorang              psikolog untuk bisa mengetahui kepribadian,karakteristik,dan bahkan permasalahan yang sedang di alami          sang klien.

Itulah kelebihan dan kekurangan apabila kita melakukan psikoterapi secara online,mana yang menurut kita lebih baik itu kembali lagi kepada diri masing-masing individu.

Rabu, 26 November 2014

Usia

Selamat pagi,usia
Semoga senantiasa menjejali ruang usia dengan bongkah-bongkah ibadah
Senang hati mengajarkanku merebah
Agar merindumu tak menuai lelah
Karena tak ada yang paling mewah
Daripada senyummu di tengah gelisah

Bila disaat diriku tak ada
Rawatlah luka,sebaik kau menyimpannya
Waktu bukanlah ibu,rawat sendiri lukamu
Percayalah,ada yang diam-diam mendo'akanmu,dalam-dalam

Aku lupa mana yang lebih dulu
Menyukaimu  atau mencintaimu
Tapi aku tak akan alpa untuk keduanya

Hari ini ulang tahunmu dan tak ada perayaan
Aku mencintaimu adalah kebiasaan



                                                                                       
                                                                                      Lelaki kesekian setelah Adam

Pelecehan Jokowi di sosial media


1.         Analisis fenomena di media social (bullying) terhadap seseorang. Contoh kasus baru itu terhadap Presiden Jokowi. Dalam lingkup ilmu Psikologi, motif apa yang sebenarnya  yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Pantaskah hukuman yang diberi sesuai dengan perilakunya ?
Jawab:
BUKITINGGI - Hasil pemeriksaan yang dilakukan Tim Pemeriksaan Psikologi, sejak 12 sampai 17 Oktober 2014 terhadap kasus bullying SD Trisula Perwari Bukittinggi, Sumatera Barat, akhirnya terungkap. Kasus ini terjadi karena faktor lemahnya fungsi pengawasan keluarga dan lingkungan.
Menurut Ketua Tim Psikologi, Yosi Molina dalam perspektif psikologi, korban maupun pelakunya sama-sama korban.
"Fungsi keluarga yang lemah, mencakup pola asuh yang permisif, ditambah peran ayah yang tidak kuat. Hal ini akan menyebabkan tidak tegaknya aturan dasar keluarga dan tidak paham batasan," kata Yosi di Universitas Negeri Padang (UNP) Bukittinggi, Jalan Batang Masang, Jumat (17/10/2014).
Dia menambahkan, penyebab lainnya adalah belum efektifnya komunikasi dalam keluarga, sehingga menyebab anak mencari bentuk lain yang negatif.
Kemudian, orangtua kurang memperhatikan perubahan prilaku dan sikap anak setiap hari. "Seperti anak tiba-tiba diam, tidak bisa ekspresikan perasaan. Kurang mendapatkan bekali anak dengan pemahaman dasar yang dapat mencegah bullying dan pelecehan," paparnya.
Sementara masalah lingkungan, menurut Yosi Molina, anak-anak sudah terpengaruh oleh game online dan tayangan televisi yang bersifat kekerasan.
"Ini memberikan dampak negatif, anak-anak merasa takut, kawatir, ini tahu, ingin mencoba dan meningkatkan perilaku agresif," ucapnya.
Keterangan Tim Pemeriksaan Psikologis ini membuat beberapa wartawan kecewa karena tidak mendetail dan memberikan kronologis yang jelas dengan alasan kode etik.
"Kita tidak bisa memberikan detail baik itu klien maupun orang tua kedua belah siswa," tegasnya.
Yosi menerangkan, pihaknya telah membuat laporan setebal 16 halaman yang diserahkan ke Pemkot Bukittingi secara resmi. "Tapi ini masih ada laporan detail perklien," tutupnya.(fid)

Analisis Kasus :
Bullying adalah sebuah situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/ kekuasaan yang dilakukan oleh seorang/ sekelompok. Pihak yang kuat disini bukan berarti kuat dalam ukuran fisik, tapi bisa juga kuat secara mental. Dalam hal ini sang korbanbullying tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik atau mental. Yang perlu dan sangar penting kita perhati-hatikan adalah bukan  sekedar tindakan yang dilakukan, tetapi dampak tindakan tersebut bagi si korban.
Menurut saya dalam kasus bullying yang terjadi pada anak-anak ini adalah kurangnya pengawasan orangtua maupun guru-guru mereka di sekolah. Kurangnya pengawasan orangtua, contohnya: orangtua tidak memperhatikan tayangan yang ditonton oleh sang anak, sehingga sang anak menkionton film yang non- edukatif, seperti film yang mencerminkan terjadinya penganiayaan terhadap orang lain sehingga sang anak ingin mencoba, karena rasa ingin tahu pada anak-anak begitu besar.
Motif sang anak dalam ilmu psikologi  atas kasus ini adalah mereka ingin mendapatkan kebahagiaan karena menurut mereka korban kasus bullying adalah sebuah candaan yang bisa membuat mereka tertawa dan puas. Apalagi ditambahkan tindakan mereka mem-bully temannya diunggah ke salah satu media sosial yaitu Youtube. Mereka merasa senang apabila unggahan mereka banyak yang melihat dan mereka merasa senang karena telah membuat banyak orang tertawa, itu menurut pemikiran mereka.
Menurut saya ciri-ciri anak yang seperti ini dilihat dari ilmu psikologi termasuk ke dalam kategori anak-anak psikopat, karena mereka merasa senang telah menyiksa orang lain ditambah dengan menggunggahnya di Youtube. Anak-anak yang menjadi pelaku kasus bullying ini terkena gangguan psikopatologi. Karena dalam video yang diunggah diYoutube juga terlihat bahwa salah seorang anak tersenyum dan bergembira atas kejadian ini. Mereka senang telah menyiksa temannya. Menurut mereka ini lucu, dan dapat membuat mereka semua senang atas semua perlakuan mereka walaupun mereka sedang menyiksa temannya.
Psikopatologi adalah suatu ilmu yang mempelajari proses dan perkembangan gangguan mental. Perkembangan penanganan gaangguan mental berkembang mulai dari zaman kuno (Yuhani) hingga zaman sekarang (modern). Terdapat perbedaan penanganan gangguan abnormalitas jiwa, karena perbedaan paradigma berpikir manusia dari zaman kezaman.
Psikopatologi anak Mempelajari gangguan psikologis atau tingkahlaku patologis pada anak dan remaja. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa psikopatologi adalah gangguan kepribadian. Menurut Shafii psikopatologi istilah yang mengacu pada baik studi tentang penyakit mental atau tekanan mental atau manifestasi perilaku dan pengalaman yang mungkin menunjukkan penyakit mental atau gangguan psikologis. Chaplin juga menyatakan psikopatologi (psychopathology) adalah cabang psikologi yang berkepentingan untuk menyelidiki penyakit atau gangguan mental dan gejala-gejala abnormal lainnya. Psikopatologi atau sakit mental adalah sakit yang tampak dalam bentuk perilaku dan fungsi kejiwaan yang tidak stabil. Istilah psikopatologi mengacu pada sebuah sindroma yang luas, yang meliputi ketidaknormalan kondisi indra, kognitif, dan emosi.
Sedangkan Alexander Theron mendefinisikan psikopatologi dengan penyakit jiwa atau gangguan jiwa (mental disorder) dimana gangguan jiwa terdiri dari ketidakmampuan berfungsinya seseorang sebegitu jauh sehingga ia tak dapat mencapai pemuasan yang cukup memadai terhadap kebutuhan-kebutuhan jasmaniyah dan perasaannya bagi dirinya sendiri dan sebegitu jauh ia tak mampu memenuhi persyaratan-persyaratan tingkah laku yang dituntut oleh masyarakat dimana ia hidup.
Jadi pengertian ini menunjukkan bahwa manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakatnya tidak mampu berfungsi baik dalam pemenuhan kebutuhan rohaniyah untuk kehidupan pribadinya sendiri dan juga untuk kebutuhan lingkungannya. Ketidakmampuan inilah yang menjadi sumber pokok dari apa yang disebut gangguan jiwanya.
Anak-anak terkadang mengalami kesukaran emosional, karena perubahan tuntutan hidup dan perubahan sikap orang tuanya, di samping pertumbuhan diri pribadi mereka, yang terkadang tidak dimengerti oleh orang tuanya. Terapi yang diberikan kepada anak yang mengalami gangguan emosi diantaranya adalah dengan menggunakan pendekatan non-directive therapy dan menggunakan permainan

Addiction (Faktor etiologi dan jenis jenis adiksinya)


     Internet addiction atau kecanduan internet adalah suatu gejala dimana seseorang sangat ketergantungan terhadap internet dan tidak mau lepas dari pengaruh internet. Kecanduan internet mempunyai gejala yang sama seperti kecanduan obat-obatan. Kecanduan internet masih jadi perdebatan untuk masuk dalam gangguan kejiawaan atau tidak. Para pasien yang mengalami kecanduan internet juga sering mengalami kondisi kejiwaan lain seperti kurang perhatian gangguan hiperaktif, depresi, kecemasan, rendah kepercayaan diri, impulsif, tak tahu malu, dan cenderung mau bunuh diri.
 Tanda-tanda orang kecanduan internet yaitu :
Kimberley Young menyebutkan beberapa gejala utama kecanduan berinternet :
1Pikiran pecandu internet terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke arah lain.
2. Adanya kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah demi meraih tingkat kepuasan yang sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
3.Yang bersangkutan secara berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan penggunaan internet.
4.Adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet.
5.Adanya kecenderungan untuk tetap on-line melebihi dari waktu yang ditargetkan.
6.Penggunaan internet itu telah membawa risiko hilangnya relasi yang berarti, pekerjaan, kesempatan studi, dan karier.
7.Penggunaan internet menyebabkan pengguna membohongi keluarga, terapis dan orang lain untuk menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet.
8.Internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan sebagainya.

A. Faktor etiologi kecanduan internet
1. Cognitive-behavioral Model: Kecanduan teknologi sebagai bagian dari kecanduan perilaku: kecanduan internet menampilkan komponen inti dari kecanduan (kedudukan kentara, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik dan kambuh). Dari perspektif ini, pecandu internet ditampilkan arti-penting kegiatan, sering mengalami keinginan dan perasaan disibukkan dengan internet saat offline. Ia juga menunjukkan bahwa menggunakan internet sebagai cara untuk menghindari perasaan mengganggu, mengembangkan toleransi internet untuk mencapai kepuasan, mengalami penarikan, kapan mengurangi penggunaan intenet, penderitaan saat meningkatnya konflik dengan orang lain karena aktivitas, dan kambuh kembali ke internet juga tanda-tanda kecanduan. Model ini telah diterapkan pada perilaku seks tersebut, berjalan, konsumsi makanan, dan perjudian.

2. Neuropsychological Model: Seorang individu akan diklasifikasikan sebagai pecandu internet asalkan ia memenuhi siapa pun dari tiga kondisi berikut: (1) salah satu akan merasa bahwa lebih mudah untuk mencapai aktualisasi diri secara online daripada di kehidupan nyata, (2) salah satu akan pengalaman dysphoria dan depresi setiap kali akses ke internet rusak atau kusut berfungsi, (3) orang akan mencoba untuk menyembunyikan waktu penggunaan yang benar nya dari anggota keluarga.
   
3. Situational Factors: Faktor situasional berperan dalam pengembangan kecanduan internet. individu yang merasa kewalahan atau yang mengalami masalah pribadi atau yang experince mengubah hidup acara seperti divorve arecent, relokasi, atau kematian dapat menyerap diri dalam dunia maya yang penuh fantasi dan intrik